Obsat ke-200: Gairah Perfilman Indonesia

  1. Momentum film Indonesia yang sedang menggebrak sekarang ini patut diapresiasi dan terus disemangati agar tidak kalah dengan film barat.

  2. Perjuangan untuk meningkatkan kualitas film Indonesia belum berakhir dan menjadi PR bagi sineas, produser, maupun semua pihak yang terlibat di Industri ini.

  3. Angga juga tidak terlalu bermasalah dengan aktor yang berasal dari sinetron. Knowledge dan teknik bisa dipelajari, asal aktor mau belajar tidak akan jadi masalah.

  4. Apa pentingnya sekolah akting dan adakah kesulitan dalam mendirect aktor yang berasal dari sinetron untuk film?

    Angga: saya percaya akting butuh knowledge, teknik, dan pendidikan (baik formal maupun non formal). Meskipun saya juga sering bertemu dengan aktor yang punya background secara otodidak.

  5. Cinema 21 berani mengklaim bahwa jaringan bioskop Indonesia selain murah (jika dibandingkan dengan luar negeri, hanya sekitar 3$), juga nyaman dan aman. Serta memberikan pengalaman yang berbeda jika nonton video di gawai.

  6. Wiro Sableng tidak untuk semua umur, tetapi untuk 13 tahun ke atas. Namun, keputusan terakhir nanti ada di tangan LSF.

  7. Ketenaran film yang muncul di Youtube apakah dapat diangkat ke layar bioskop?

    Meskipun tenar di Youtube, belum tentu sebuah film dapat diangkat ke layar bioskop. Tetap dengan prasyarat utama mulai dari trailer hingga produser.

  8. Mengapa Sheila Timothy memilih film Wiro Sableng bukan yang lain?

    Wiro Sableng mempunyai captive market lintas generasi hingga karakter yang sangat kuat dan mudah dicintai serta dapat menjadi film genre action-comedy yang segar.

  9. Mengapa film action jarang diproduksi? Apakah kurang laku?

    Berkaca dari The Raid yang sangat sukses, sesungguhnya film action tidak bisa dibilang kurang laku. Namun, produser jarang memproduksi karena jika dibuat dengan serius, film action membutuhkan budget yang tidak kecil.

  10. Masalah film digital yang terbit lebih dulu sebelum di bioskop luar, sebenarnya cukup menyusahkan produser namun masih lebih baik daripada harus berhadapan dengan bajakan.

  11. Cinema 21 melakukan kurasi utama untuk film-film yang akan tayang di jaringan bioskopnya. Hal yang pertama kali dinilai adalah trailer. Lalu, production house, produser, hingga genrenya.

  12. 2oth Century Fox membantu dari struktur skenario, hingga pada saat budgeting diterima, tidak ada masalah yang berarti. Untuk Indonesia, film Wiro Sableng termasuk berbudget sangat besar, namun bagi 20th Century Fox, budget tersebut sangatlah kecil.

  13. Sheila Timothy - projek Wiro Sableng telah dimulai sejak tiga tahun lalu, hingga akhirnya dapat mempresentasikan kelebihan Wiro Sableng pada 20th Century Fox hingga mereka tertarik untuk bekerja sama.

  14. Seperti yang disampaikan oleh Catherine Keng, marketshare Film Indonesia di Mancanegara menduduki peringkat 9 dunia.

  15. Berdasarkan data Cinema 21, di tahun 2016 film Indonesia mulai bergairah. Ada 10 judul yang berhasil mendapatkan lebih dari satu juta penonton.

  16. Catherine Keng: sebagai ekshibitor, peta perkembangan film di Indonesia semakin positif.

  17. 20th Century Fox sedang berusaha masuk ke pasar Asia dengan menjajaki 3 negara, namun memilih Indonesia terlebih dahulu dengan project Wiro Sableng dari Lifelike Pictures. - Sheila Timothy

  18. Sheila Timothy: market film Indonesia semakin beragam mulai dari mayoritas pecinta film genre umum hingga genre yang niche sehingga makin banyak filmmaker yang bisa mengeksplor beragam cerita.

  19. Angga Sasongko: film Indonesia semakin bergairah dengan melebarnya ekosistem film di kanal-kanal distribusi digital seperti tv streaming. Sehingga industri film lagi seksi-seksinya.

  20. Suasana Obsat ke-200: Gairah Perfilman Indonesia
    Suasana Obsat ke-200: Gairah Perfilman Indonesia
  21. Saat ini, Angga Dwimas Sasongko dan Catherine Keng telah hadir di venue Obsat ke-200: Gairah Perfilman Indonesia yaitu Eat&Eat FX Sudirman F5. Setelah Sheila Timothy hadir, acara Obsat akan segera kami mulai.

  22. Setelah pendaftaran dibuka sejak pukul 17.30, kursi Obsat ke-200: Gairah Perfilman Indonesia semakin padat terisi. Pertanda antusiasme masyarakat akan film Indonesia semakin besar.

  23. Dengan dimoderatori oleh Andi Baso Djaya (Editor Beritagar.id), Obsat ke-200: Gairah Perfilman Indonesia, menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya, Angga Dwimas Sasongko (CEO Visinema Group), Sheila Timothy (CEO Lifelike Picture), dan Catherine Keng (Corporate Secretary Cinema 21).

  24. Obsat ke-200: Gairah Perfilman Indonesia
    Obsat ke-200: Gairah Perfilman Indonesia